Maqomat
(Station-Station) Dalam Taswuf
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : TASAWUF
Dosen Pengampu : ZAENAL
ARIFIN
Disusun
Oleh kelompok 6:
NAMA
:
AGUS
MAKSUM (1320210343)
ENNY
MUKAROMAH (1320210344)
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN
SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM PRODI EKONOMI SYARIAH
TAHUN
2015
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
LATA BELAKANG
Tasawuf merupakan salah satu fenomena dalam Islam yang
memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia, yang selanjutnya
menimbulkan akhlak mulia. Melalui tasawuf ini seseorang dapat mengetahui
tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkan secara benar.
Tinjauan analitis terhadap tasawuf menunjukkan bahwa para
sufi dengan berbagai aliran yang dianutnya memiliki suatu konsepsi tentang
jalan (thariqat) menuju Allah. Jalan ini dimulai dengan latihan-latihan
rohaniah (riyadah), lalu secara bertahap menempuh berbagai fase, yang
dikenal dengan maqam (tingkatan) dan hal (keadaan), dan berakhir
dengan mengenal (ma’rifat) kepada Allah.
perjalanan menuju Allah untuk memperoleh pengenalan (ma’rifat)
yang berlaku di kalangan sufi sering disebut sebagai sebuah kerangka ‘Irfani.
Lingkup ‘Irfani tidak dapat dicapai dengan mudah
atau secara spontanitas, tetapi melalui proses yang panjang. Proses yang
dimaksud adalah maqam-maqam (tingkatan atau stasiun) dan ahwal (jama’
dari hal). maqam dan hal tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan antar keduanya dapat dilihat dalam kenyataan
bahwa maqam menjadi prasyarat menuju Tuhan dan dalam maqam akan
ditemukan kehadiran hal. Hal yang telah ditemukan dalam maqam akan
mengantarkan seseorang untuk mendaki maqam-maqam selanjutnya. Dua
persoalan ini harus dilewati oleh orang yang berjalan menuju Tuhan.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa
yang dimaksud dengan maqomat?
2. Macam
– macam maqomat dalam tasawuf?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Maqomat
Secara
harfiah maqomat berasal dari bahasa
Arab, yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini
selanjutnya digunakan sebagai jalan panjang yang harus di tempuh oleh seorang
sufi untuk berada di dekat Allah. Dalam
bahasa inggris, maqomat dikenal
dengan istilhah stage, yang berarti
tangga. Jumlah tangga, station atau maqomat yang
harus ditempuh oleha seorang sufi untuk sampai kepada Tuhan.[1]
Terjadi perbedaan pendapat dikalangan para sufi, Al Qusyairi, menjelaskan
bahwa maqamat adalah etika seorang hamba dalam wushul (mencapai,
menyambung) kepadanya dengan macam upaya, diwujudkan dengan tujuan pencarian
dan ukuran tugas. Al
Qusyairi menggambarkan maqamat dalam taubat - wara - zuhud - tawakal - sabar
dan Ridha. Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat
dengan taubat - sabar - faqir - zuhud - tawakal - mahabah - ma'rifat dan
ridha. Al Kalabadhi (w. 990/5)
didalam kitabnya "Al taaruf Li Madzhab Ahl Tasawuf", sebuah
kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Arthur John Arberry
dengan judul "The doctrine of the Sufi" menjelaskan ada sekitar 10 maqamat : Taubat
- zuhud - sabar - faqir - dipercaya - tawadhu (rendah hati) - tawakal - ridho -
mahabbah (cinta) -dan ma'rifat. [2]
B. Macam-Macam Maqamat
Penjelasan semua tingkatan itu
sebagaimana berikut:
a.
Taubat
Taubat dalam bahasa arab yang berarti
“kembali” atau “kembali”, sedangkan taubat bagi kalangan sufi memohon ampunan atas
segala dosa yang disertai dengan penyesalan dan berjanji dengan sunguh-sunguh
untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut dan dibarengi dengan melakukan
kebajikan yang dianjurkan oleh Allah.
Berkaitan dengan maqam taubat, dalam al
qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan masalah ini. Yaitu firman Allah
(Q.S. Ali Imran, 3:135) dan (Q.S An nur, 24:31)
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا
أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
... Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada
Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S An nur,
24:31)[3]
Dalam ajaran
tasawuf, konsep tobat dikembangkan dan mendapat berbagai pengertian. Tobat
dibedakan menjadi tobat dalam syariat biasa ialah tobat orang awam dan maqom
taubat ialah orang khawas. Dalam hal ini ulama sufi Dzu Al-Nun Al-mishir
mengatakan : “tobatnya orang-orang awam (sekadar) tobat dari dosa-dosa,
sedangkan tobat orang khawas ialah tobat dari ghofla (lalai mengingat tuhan)”.[4]
Tawbah kan
oleh para salikin merupakan tindakan permulaan dalam peraturan ajaran tasawuf.
Pada tahap tobat ini, seorang sufi membersihkan dirinya (tazkiyah AnNafs) dari
perilaku yang menimbulkan dosa dan rasa bersalah. Tobat juga merupakan sebuah
terma yang dikembangkan oleh para salikin (orang- orang menuju tuhan )untuk
mencapai maqomat.
b.
Wara’
Secara harfiah al wara’ artinya soleh,
kata wara’ mengandung arti
menjauhi hal-hal yang tidak baik. Dalam pengertian sufi wal wara’ adalah
meninggalkan yang didalamnya terdapat keragu-raguan antara halal dan haram
(Syubhat). Ini sejalan dengan (H.R. Bukhori),
“barang siapa
yang dirinya terbebas dari syubhat, maka sesungguhnya ia telah bebas dari yang
haram”.
Ulama
sufi membagi wara’ kedalam beberapa tingkatan. Yahya bin ma’adz berkata, wara
itu itu dua tingkatan wara segi lahir yaitu hendaklah kamu tidak bergerak,
kecuali untuk ibadah pada Allah, dan wara batin, yakni agar tidak masuk dalam
hatimu, kecuali Allah.
c.
Zuhud
Secara terminologi, zuhd ialah
mengarahkan keinginan kepada Allah SWT, menyatakan kemauan kepadaNya sehingga
lebih sibuk denganNya dari pada kesibukan lainnya agar Allah memerhatikan dan
memimpin seorang zahid (orang yang berperilaku zuhd). Al junaidi al bagdadi
mengatakan “ zuhd adalah ketika tangan tidak memiliki apa-apa dan hati kosong
dari cita-cita.
Disini seorang sufi tidak memiliki
suatu yang berharga, tetapi tuhan yang dekat dengan dirinya. Yahya ibn Muadh
menyatakan bahwa zuhd adalah meninggalkan apa yang sudah ditinggalkan.
d.
Faqr
Secara harfiah, faqr (fakir) diartikan
sebagai orang yang berhajat, membutuhkan, atau orang miskin. Adapun dalam
pandangan sufi. Fakir adalah tidak meminta lebih dari apa yang di miliki kita.
Tidak meminta rezeki, kecuali hanya untuk menjalankan kewajiban-kewajiban.
Tidak meminta sungguh pun tak ada pada diri kita, tetapi kalau diberi diterima.
Tidak meminta, tetapi tidak menolak.
e.
Sabar
Sabr (sabar) bukanlah sesuatu yang harus diterima seadanya,
bahkan sabar adalah usaha kesungguhan yang juga merupakan sifat Allah yang
sangat mulia dan tinggi. Sabr ialah menahan diri dalam memikul suatu
penderitaan, baik dalam sesuatu perkara yang tidak diinginkan maupun dalam kehilingan sesuatu yang di
senangi.[5]
Sebagaiman dalam firman Allah dan
(Q.S. al-Ahqof, 46:35)Yang berbunyi:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو
الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ...
Maka bersabarlah kamu seperti
orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan
janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. (Q.S. al-Ahqof, 46:35) [6]
f.
Tawakal
Secar umum pengrtian tawakal adalah
pasrah dan mempercayakan secara bulat kepada Allah setelah seseorang membuat
rencana dan melakukan usaha untuk ikhtiar. Akan tetapi dikalangan sufi
pengertian tawakal dipahami lebih mendalam lagi. Misalnya
al-syibli (w. 945 M) mengatakan tawakal adalah hendaknya engkau merasa tidak
ada harapan Allah dan Allah senatiasa dihadapan kamu. Hal ini berarti dalam
segala hal baik sikap maupun perbuatan seseorang harus menerima secara tulus.
Apapun yang terjadi adalah diluar pinta dan usaha tetapi semuany diyakini dari
Allah semata. [7]
g.
Ridho
Ridho ajaran untuk menanggapi dan
mengubah segala bentuk keadaan jiwa, baik kebahagiaan, kesenangan, penderitaan,
kesengsaraan, dan kesusahan menjadi kegembiraan dan kenikmatan karena
kebahagiaan menikmati segala pemberian Allah SWT. Al-ghozali mengatakan” rela
menerima apa saja, segala yang telah dan sedang dialaminya itulah yang terbaik
baginya, tak ada yang lebih baik selain apa yang telah dan sedang dialaminya.”
Ibnu khaff mengatakan tentang ridho “ kerelaan hati menerima ketentuan tuhan,
dan persetuan hatinya terhadap yang diridhoi Allah untuknya.
h. Mahabbah
Secara harfiah, mahabah atau al-hubb
sering diartikan dengan cinta dan kasih sayang. Mahabah adalah usaha mewujudkan
rasa cinta kasih sayang yang
ditujukan kepada Allah. Mahabah juga
dapat diartikan sebagai luapan hatidan gejolaknya ketika dirundungkeinginan
untuk bertemudengan kekasih, yaitu Allah SWT. Tasawuf menjadikan mahabah sebagai tempat
persinggahan orang yang berlomba untuk memperoleh cinta illahi menjadi sasaran
orang-orang yang beramal dan menjadi uirahan orang-orang yang mencintai
tuhannya.
i.
Ma’rifah
Ma’rifah (arafa-ya ‘rifatan) secara etimologis berarti
mengenal, mengetahui, dan boleh pula diartikan dengan menyaksikan. Istilah
ma’rifat dalam tasawuf sering di konotasi pada panggilan hati melalui berbagai
bentuk tafakur untuk menghayati nilai-nilai kerinduan yang berhasil dari
kegiatan dzikir sesuai dengan tanda-tanda pengungkapan (hakikat) secara terus
menerus. Maksudnya hati menyaksikan kekuasaan tuhan dan merasakan
besarnya kebenaranNya dan mulianya kehebatannya yang tibdak dapat diungkapkan
dengan kata-kata. Dari aspek lain ma’rifat juga berarti mengetahui apa saja yang
dibayangkan dalam hati tanpa menyaksikan sendiri keadaannya berdasarkan
pengetahuan Tuhan.
B. DAFTAR PUSTAKA
Amin Mansyur, tasawuf
kontekstual, pustaka pelajar, 2003
Mulyadi kartanegara, menyelami lubuk tasawuf,
PT.Gelora Aksara Pratama,2006
Muhamad Alfan, psikologi tasawuf,
CV Pustaka Setia, bandung, 2011
Masyarudin, pemberontakan tasawuf, JP Books, surabaya, 2007
Ris’an Ruli, tasawuf dan
torekat, PT Raja grafinndo, persada, 2013,
Q.S. An-Nur,24:31
Q.S. al-Ahqof, 46:35
[1]
Amin Mansyur, tasawuf kontekstual,
pustaka pelajar, 2003 (hlm 22)
[2]
Mulyadi kartanegara, menyelami lubuk tasawuf, PT.Gelora
Aksara Pratama,2006 (hlm 184-199)
[3]
(Q.S. An-Nur,24:31)
[4]
Ris’an Ruli, tasawuf dan torekat,
PT Raja grafinndo, persada, 2013, (hlm: 55)
[5]
Muhamad Alfan, psikologi tasawuf, CV Pustaka Setia, bandung, 2011 (hlm 163)
[6]
(Q.S. al-Ahqof, 46:35)
[7]
Masyarudin, pemberontakan tasawuf,
JP Books, surabaya, 2007 (hlm 234)
[8]
Muhamad Alfan op. Cit (hlm : 171-196)
Komentar
Posting Komentar